7 Mitos dan Fakta Seputar Menyusui
Merawat dan menyusui bayi hanya dengan bermodalkan ‘katanya sih..., ‘dia bilang gitu kok...’, ‘bu Fulan bilang gak apa-apa...’ dan sebagainya, adalah tindakan ceroboh dan terlalu ‘berani’. Ceroboh karena terlalu mempercayai orang yang tidak memiliki keilmuan di bidangnya. Berani karena dilakukan pada buah hati anda yang akan berakibat pada kehidupan jangka panjangnya kelak.

Ada banyak opini seputar menyusui yang berseliweran di luar sana. Kalau berasal dari dokter atau bidan masih bisa dipertanggung jawabkan. Tapi bila berasal dari ‘katanya’, hati-hati. Anda juga perlu kritis sebagai ibu yang cerdas, karena yang dipertaruhkan adalah manusia (baca: anda dan Si Kecil), bukan mesin yang bisa dibeli kapan saja onderdilnya. Iya, kan?
Lalu, apa saja mitos dan fakta yang selama ini menjadi tanda tanya para ibu yang mungkin anda salah satunya? Berikut adalah pertentangan antara mitos dan fakta tentang menyusui.
Fakta: ini yang sering menghantui ibu-ibu, terutama bagi yang belum berpengalaman karena pertama kali menyusui. Percayakah anda dengan kalimat di atas? Jika anda percaya maka sebaiknya jangan melanjutkan pada kalimat-kalimat berikutnya. Tapi, jika anda ragu maka di sini anda akan menemukan rahasianya.
Tahukah anda bahwa saat anda sakit dan kondisi badan sedang tidak fit tidak berpengaruh pada bayi yang sedang anda susui. Anda mungkin akan bertanya, “kenapa gak berpengaruh? Saya kan sedang tidak sehat dan air susu saya juga masuk ke bayi saya? nanti malah menular”
Itu adalah logika medis dari ibu-ibu yang belum mengetahui sebenarnya. Wajar, keterbatasan informasi dan pengetahuan seringkali mengakibatkan kesalahan persepsi atau salah paham. Padahal, fakta yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh anda adalah seperti ini menurut Departemen Kesehatan Wanita (Office on Women’s Health), Amerika Serikat: saat anda sakit atau pun dalam kondisi tidak fit, tubuh anda akan merespon dengan cara mengeluarkan lebih banyak zat antibodi (penangkal) terhadap penyakit yang sedang menyerang. Dan tebak apa yang terjadi?
Proses menghasilkan banyak zat antibodi itu juga mempengaruhi air susu anda melalui darah yang masuk ke ASI. Dan ini dia: ketika anda mulai menunjukkan gejala sakit, bayi anda sudah terpapar oleh bakteri, yang berarti dia juga akan meningkatkan sistem antibodinya. Ketika zat itu masuk ke mulut bayi lewat ASI maka berarti anda sedang membentenginya dari penyakit, bukan membuatnya ikut sakit. Keuntungannya, Si Kecil akan lebih tahan terhadap serangan penyakit kelak sepanjang masa pertumbuhan dan perkembangannya. Masih ragukah anda ketika sakit? Asal bukan virus HIV/AIDS maka ibu aman. Intinya, ASI anda tidak membahayakan. Itu saja.
Fakta: Bayi yang mendapat ASI segera setelah lahir memang lebih sering haus dibanding dengan bayi yang diberi susu formula. Untuk itu dianjurkan bagi anda untuk menyusui per dua-tiga jam dan tidak perlu khawatir mitos di atas. Dr. Rob Hicks, seorang dokter spesialis kesehatan wanita dan anak di St. Mary’s Hospital, London menganjurkan untuk tidak menghentikan menyusui selama masih bisa memproduksi ASI dari susu ibu.
Mengenai hal itu ada hubungannya dengan mitos berikut ini:
Fakta: Lucu. Itu kata yang bisa kita ekspresikan untuk kalimat di atas ini. Payudara ibu bukan seperti tempat penampungan air/bak mandi, yang bila tutup pembuangannya dipasang maka akan menampung lebih banyak air dari kran. Sebaliknya, bila tutupnya dibuka maka airnya akan terus berkurang dan harus dipasang dan menunggu untuk penuh lagi sehingga air tidak boleh dipakai dulu. Tidak, bukan begitu cara kerjanya.
Lalu bagaimana sebenarnya?
Mengistirahatkan sejenak proses menyusui hingga malam hari justru akan menyebabkan kekurangan suplai air susu pada keesokannya. Para ahli bahkan menganjurkan untuk menyusui 9-10 kali dalam sehari dengan rentang waktu 2-3 jam antar menyusui. Itu adalah cara terbaik mengetahui dan menjaga kestabilan volume susu yang bisa diberikan agar tetap deras. Jadi, hentikan kelucuan mitos di atas jika anda memang sayang anakJ
Fakta: Bayi lahir dengan refleks sebagai bayi. Dia memiliki dua macam refleks: refleks menghisap dan refleks respons. Bayi anda merespons jika ada sentuhan terhadap pipi maupun mulutnya. Dia juga akan merespon ketika ada benda atau sesuatu yang menyentuh mulutnya. Insting ini memang bawaan lahir, asalkan bayi lahir tanpa masalah kesehatan. Tapi, meskipun bayi membawa refleks alamiah yang menjadi bawaan lahir, itu tidak menjamin proses dan pengalaman menyusui bisa berhasil dengan baik.
Bahkan, menurut Jennifer Buchanan, RN, MSN, IBCLC, seorang dokter anak pada Children’s Hospital Los Angeles (CHLA), Amerika Serikat, kecakapan Si Kecil dan anda dalam proses menyusui harus tetap dilatih (exercise) untuk membiasakan dan mengasah keterampilan menyusui (skilled breasteeding). Jadi, menyusui itu adalah tuntutan untuk belajar bersama antara anda dan bayi anda dalam memperkuat skill sebagai tindak lanjut dari refleks alamiah bawaan bayi yang membutuhkan bimbingan dan latihan. Apalagi mungkin anda sebagai ibu yang baru pertama kali menyusui.
Fakta: pernyataan di atas ada benarnya asal ditujukan kepada bayi yang usianya sudah 3 bulan ke atas dan rutinitas pemberian ASI sudah berjalan dengan baik. Tapi, jika dua alasan tersebut tidak ada maka mitos di atas tidak benar. Dua hari setelah melahirkan biasanya bayi akan sering tidur.
Nah, untuk membiasakan dan membangun rutinitas menyusui yang baik, anda tetap perlu membangunkan Si Kecil. Membiarkan dia tetap tidur lebih lama sehingga pemberian ASI-nya juga ikut tertunda akan menjadi masalah. Rutinitas menyusui beberapa hari setelah melahirkan harus tetap dilkukan demi kepentingan nutrisinya.
Fakta: yang perlu diketahui adalah bahwa ASI manusia memiliki kesesuaian dengan faktor-faktor perkembangan yang dibutuhkan manusia. Sedangkan susu formula yang berasal dari susu sapi tentu saja memilki kesesuaian dengan zat yang berhubungan dengan faktor perkembangan sapi.
Meskipun susu ASI berusaha untuk diduplikasi oleh susu formula, hasil yang diperoleh tidak akan sama. Karena ASI adalah proses yang berkaitan dengan bayi, maka tidak mungkin diduplikat oleh satu susu formula dan dipakai sama rata untuk semua bayi. Banyak perusahaan yang melakukan penelitain ilmiah dan ingin melakukan penyamaan dengan komposisi yang terkandung dalam ASI. Tentu, hasilnya berbeda.
Namun demikian, susu formula memang dapat membantu untuk ibu yang tidak bisa memberikan ASI atau berencana untuk tidak memberikan ASI.
Fakta: bentuk payudara setiap wanita tidak sama posturnya. Ada yang putingnya memang menonjol, payudaranya besar dan ada yang flat (rata) sehingga dikhawatirkan menjadi penyebab bingung puting. Di samping itu, bayi juga dilahirkan dengan bentuk mulut tertentu, seperti mulut, bibir dan lidah yang tidak sama.
Kesesuaian bentuk anatomi (anatomic compatibility) fisik inilah yang memiliki kelebihan tersendiri antara ibu dan bayi.
Fakta bentuk payudara seperti di atas tidak ada hubungannya dengan bisa tidaknya ibu memberikan ASI. Jadi, tidak benar bahwa bila bentuk payudara rata atau masuk ke dalam anda tidak bisa menyusui. Apalagi, saat ini banyak tersedia alat bantu untuk bentuk payudara maupun puting yang kurang menggembirakan. Tentu, memakainya anda perlu bimbingan dokter atau bidan dan konsultan ASI anda.
Jika mitos membuat anda bingung dan khawatir akan kualitas menyusui, akan lebih membingungkan jika anda hanya berdiam diri tanpa aktif melakukan konsultasi dengan dokter atau bidan anda. Jadi proaktiflah demi Si Kecil ke depannya.
Ada banyak opini seputar menyusui yang berseliweran di luar sana. Kalau berasal dari dokter atau bidan masih bisa dipertanggung jawabkan. Tapi bila berasal dari ‘katanya’, hati-hati. Anda juga perlu kritis sebagai ibu yang cerdas, karena yang dipertaruhkan adalah manusia (baca: anda dan Si Kecil), bukan mesin yang bisa dibeli kapan saja onderdilnya. Iya, kan?
Lalu, apa saja mitos dan fakta yang selama ini menjadi tanda tanya para ibu yang mungkin anda salah satunya? Berikut adalah pertentangan antara mitos dan fakta tentang menyusui.
- Mitos: Menyusui saat sakit membahayakan bagi bayi yang sedang disusui karena akan ikut sakit.
Fakta: ini yang sering menghantui ibu-ibu, terutama bagi yang belum berpengalaman karena pertama kali menyusui. Percayakah anda dengan kalimat di atas? Jika anda percaya maka sebaiknya jangan melanjutkan pada kalimat-kalimat berikutnya. Tapi, jika anda ragu maka di sini anda akan menemukan rahasianya.
Tahukah anda bahwa saat anda sakit dan kondisi badan sedang tidak fit tidak berpengaruh pada bayi yang sedang anda susui. Anda mungkin akan bertanya, “kenapa gak berpengaruh? Saya kan sedang tidak sehat dan air susu saya juga masuk ke bayi saya? nanti malah menular”
Itu adalah logika medis dari ibu-ibu yang belum mengetahui sebenarnya. Wajar, keterbatasan informasi dan pengetahuan seringkali mengakibatkan kesalahan persepsi atau salah paham. Padahal, fakta yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh anda adalah seperti ini menurut Departemen Kesehatan Wanita (Office on Women’s Health), Amerika Serikat: saat anda sakit atau pun dalam kondisi tidak fit, tubuh anda akan merespon dengan cara mengeluarkan lebih banyak zat antibodi (penangkal) terhadap penyakit yang sedang menyerang. Dan tebak apa yang terjadi?
Proses menghasilkan banyak zat antibodi itu juga mempengaruhi air susu anda melalui darah yang masuk ke ASI. Dan ini dia: ketika anda mulai menunjukkan gejala sakit, bayi anda sudah terpapar oleh bakteri, yang berarti dia juga akan meningkatkan sistem antibodinya. Ketika zat itu masuk ke mulut bayi lewat ASI maka berarti anda sedang membentenginya dari penyakit, bukan membuatnya ikut sakit. Keuntungannya, Si Kecil akan lebih tahan terhadap serangan penyakit kelak sepanjang masa pertumbuhan dan perkembangannya. Masih ragukah anda ketika sakit? Asal bukan virus HIV/AIDS maka ibu aman. Intinya, ASI anda tidak membahayakan. Itu saja.
- Mitos: Jika bayi selalu menyusui berarti dia sedang kekurangan suplai susu sehingga selalu haus.
Fakta: Bayi yang mendapat ASI segera setelah lahir memang lebih sering haus dibanding dengan bayi yang diberi susu formula. Untuk itu dianjurkan bagi anda untuk menyusui per dua-tiga jam dan tidak perlu khawatir mitos di atas. Dr. Rob Hicks, seorang dokter spesialis kesehatan wanita dan anak di St. Mary’s Hospital, London menganjurkan untuk tidak menghentikan menyusui selama masih bisa memproduksi ASI dari susu ibu.
Mengenai hal itu ada hubungannya dengan mitos berikut ini:
- Mitos : menghentikan sejenak menyusui dipercaya akan membantu jumlah ASI yang bisa dikeluarkan.
Fakta: Lucu. Itu kata yang bisa kita ekspresikan untuk kalimat di atas ini. Payudara ibu bukan seperti tempat penampungan air/bak mandi, yang bila tutup pembuangannya dipasang maka akan menampung lebih banyak air dari kran. Sebaliknya, bila tutupnya dibuka maka airnya akan terus berkurang dan harus dipasang dan menunggu untuk penuh lagi sehingga air tidak boleh dipakai dulu. Tidak, bukan begitu cara kerjanya.
Lalu bagaimana sebenarnya?
Mengistirahatkan sejenak proses menyusui hingga malam hari justru akan menyebabkan kekurangan suplai air susu pada keesokannya. Para ahli bahkan menganjurkan untuk menyusui 9-10 kali dalam sehari dengan rentang waktu 2-3 jam antar menyusui. Itu adalah cara terbaik mengetahui dan menjaga kestabilan volume susu yang bisa diberikan agar tetap deras. Jadi, hentikan kelucuan mitos di atas jika anda memang sayang anakJ
- Mitos: Bayi secara alami akan bisa menemukan puting susu ibunya. Jadi, tidak perlu diajarkan maupun dibimbing.
Fakta: Bayi lahir dengan refleks sebagai bayi. Dia memiliki dua macam refleks: refleks menghisap dan refleks respons. Bayi anda merespons jika ada sentuhan terhadap pipi maupun mulutnya. Dia juga akan merespon ketika ada benda atau sesuatu yang menyentuh mulutnya. Insting ini memang bawaan lahir, asalkan bayi lahir tanpa masalah kesehatan. Tapi, meskipun bayi membawa refleks alamiah yang menjadi bawaan lahir, itu tidak menjamin proses dan pengalaman menyusui bisa berhasil dengan baik.
Bahkan, menurut Jennifer Buchanan, RN, MSN, IBCLC, seorang dokter anak pada Children’s Hospital Los Angeles (CHLA), Amerika Serikat, kecakapan Si Kecil dan anda dalam proses menyusui harus tetap dilatih (exercise) untuk membiasakan dan mengasah keterampilan menyusui (skilled breasteeding). Jadi, menyusui itu adalah tuntutan untuk belajar bersama antara anda dan bayi anda dalam memperkuat skill sebagai tindak lanjut dari refleks alamiah bawaan bayi yang membutuhkan bimbingan dan latihan. Apalagi mungkin anda sebagai ibu yang baru pertama kali menyusui.
- Mitos: Jangan membangunkan bayi tidur untuk menyusui, kasihan.
Fakta: pernyataan di atas ada benarnya asal ditujukan kepada bayi yang usianya sudah 3 bulan ke atas dan rutinitas pemberian ASI sudah berjalan dengan baik. Tapi, jika dua alasan tersebut tidak ada maka mitos di atas tidak benar. Dua hari setelah melahirkan biasanya bayi akan sering tidur.
Nah, untuk membiasakan dan membangun rutinitas menyusui yang baik, anda tetap perlu membangunkan Si Kecil. Membiarkan dia tetap tidur lebih lama sehingga pemberian ASI-nya juga ikut tertunda akan menjadi masalah. Rutinitas menyusui beberapa hari setelah melahirkan harus tetap dilkukan demi kepentingan nutrisinya.
- Mitos: Susu formula sama dengan ASI. Memberikan susu formula dapat menggantikan kualitas pemberian ASI.
Fakta: yang perlu diketahui adalah bahwa ASI manusia memiliki kesesuaian dengan faktor-faktor perkembangan yang dibutuhkan manusia. Sedangkan susu formula yang berasal dari susu sapi tentu saja memilki kesesuaian dengan zat yang berhubungan dengan faktor perkembangan sapi.
Meskipun susu ASI berusaha untuk diduplikasi oleh susu formula, hasil yang diperoleh tidak akan sama. Karena ASI adalah proses yang berkaitan dengan bayi, maka tidak mungkin diduplikat oleh satu susu formula dan dipakai sama rata untuk semua bayi. Banyak perusahaan yang melakukan penelitain ilmiah dan ingin melakukan penyamaan dengan komposisi yang terkandung dalam ASI. Tentu, hasilnya berbeda.
Namun demikian, susu formula memang dapat membantu untuk ibu yang tidak bisa memberikan ASI atau berencana untuk tidak memberikan ASI.
- Mitos: payudara yang putingnya rata atau atau masuk ke dalam tidak akan bisa menyusui.
Fakta: bentuk payudara setiap wanita tidak sama posturnya. Ada yang putingnya memang menonjol, payudaranya besar dan ada yang flat (rata) sehingga dikhawatirkan menjadi penyebab bingung puting. Di samping itu, bayi juga dilahirkan dengan bentuk mulut tertentu, seperti mulut, bibir dan lidah yang tidak sama.
Kesesuaian bentuk anatomi (anatomic compatibility) fisik inilah yang memiliki kelebihan tersendiri antara ibu dan bayi.
Fakta bentuk payudara seperti di atas tidak ada hubungannya dengan bisa tidaknya ibu memberikan ASI. Jadi, tidak benar bahwa bila bentuk payudara rata atau masuk ke dalam anda tidak bisa menyusui. Apalagi, saat ini banyak tersedia alat bantu untuk bentuk payudara maupun puting yang kurang menggembirakan. Tentu, memakainya anda perlu bimbingan dokter atau bidan dan konsultan ASI anda.
Jika mitos membuat anda bingung dan khawatir akan kualitas menyusui, akan lebih membingungkan jika anda hanya berdiam diri tanpa aktif melakukan konsultasi dengan dokter atau bidan anda. Jadi proaktiflah demi Si Kecil ke depannya.
Komentar
Posting Komentar